Sejarah NU dari Kisah Kiai As'ad: 66 Ulama Rapat di Bangkalan Tahun 1920, Mengadu Kepada Syaikhona Kholil
Kisah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) tak bisa dipisahkan dari bumi Madura. Tepatnya di Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan.
Hal ini wajar, karena para ulama yang mendirikan NU mayoritas adalah santri Syaikhona Kholil, sehingga apa saja yang terjadi pasti meminta restu dan nasehat guru.
Kisah kemasyhuran KH Hasyim Asy'ari dan para pendiri NU lahir dari karomah yang melakat dalam diri Syaikhona Kholil.
Menjelang NU lahir, ulama sudah resah dengan kondisi sosial kemasyarakatan yang sudah saling fitnah. Kalau lama dibiarkan, sangat bahaya, akan terjadi konflik yang merugikan umat.
Di tengah kondisi itu, ulama galau merespon kondisi jaman. Kyai As'ad Syamsul Arifin Situbondo memberikan kesaksian langsung saat para ulama galau itu.
"Kira-kira tahun 1920, waktu saya ada di Bangkalan (Madura), di pondok Kyai Kholil. Kira-kira tahun 1920, Kyai Muntaha Jengkebuan menantu Kyai Kholil, mengundang tamu para ulama dari seluruh Indonesia," kata Kyai As'ad yang dikutip BeritaBantul.com dari kanal Youtube Abajadun Kreatif.
Kyai As'ad mengisahkan, secara bersamaan tidak dengan berjanji datang bersama, ada sekitar 66 ulama dari seluruh Indonesia.
"Masing-masing ulama melaporkan: “Bagaimana Kyai Muntaha, tolong sampaikan kepada Kyai Kholil, saya tidak berani menyampaikannya. ini semua sudah berniat untuk sowan kepada Hadlratusy Syaikh," cerita Kyai As'ad.
Para ulama saat itu, lanjut Kyai As'ad, tidak ada yang berani matur kepada Syaikhona Kholil, hanya Kyai Muntaha yang dipandang berani menyampaikan
Kyai Muntaha berkata: 'Apa keperluannya?'."
"Begini, sekarang ini mulai ada kelompok-kelompok yang sangat tidak senang dengan ulama salaf, tidak senang dengan kitab-kitab ulama Salaf. Yang diikuti hanya Quran dan Hadis saja," kisah Kyai As'ad menirukan para ulamaberkata saat itu.
Menurut Kyai As'ad, para ulama saat itu menilai propaganda kembali kepada Qur'an dan Sunnah membuat kitab kuning seperti tidak dianggap, tidak perlu diikuti.
Bagaimana pendapat pelopor-pelopor Walisongo karena ini yang sudah berjalan di Indonesia. Sebab rupanya kelompok ini melalui kekuasaan pemerintah Jajahan, Hindia Belanda. tolong disampaikan pada Kyai Kholil,” tutur para ulama saat itu.
Kyai As'ad mengisahkan, di sata para ulamamasih di rumah Kyai Muntaha, Kyai Kholil memerintahkan Kyai Nasib:
“Nasib, Kesini! Bilang kepada Muntaha, di Quran sudah ada, sudah cukup:
يُرِيدُونَ أَن يُطْفِؤُواْ نُورَ اللّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّهُ إِلاَّ أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ﴿٣٢﴾
“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai” (at-Taubat: 32).
Jadi kalau sudah dikehendaki oleh Allah Ta’ala, maka kehendaknya yang akan terjadi, tidak akan gagal. Bilang ya kepada Muntaha,” pesan Kyai Kholil agar disampaikan kepada Kyai Muntaha dan para ulama saat itu.
Jadi, kata Kyai As'ad, para tamu belum sowan tapi sudah dijawab oleh Kyai Kholil.
"Ini karomah saudara, belum datang sudah dijawab keperluannya," tegas Kyai As'ad.
Karena karomahnya Kyai Kholi ini, maka Kyai Muntaha berkata kepada para ulama.
Saya puas sekarang. Saya belum sowan, sudah dijawab hajat saya ini," kata Kyai Muntaha.
Kyai As'ad menjelaskan bahwa para ulamaakhirnya tidak menyampaikan apa-apa, hanya salaman saja kepada Syaikhona Kholil Bangkalan.***

Belum ada Komentar untuk "Sejarah NU dari Kisah Kiai As'ad: 66 Ulama Rapat di Bangkalan Tahun 1920, Mengadu Kepada Syaikhona Kholil"
Posting Komentar